INFO TERBARU
Showing posts with label PERISTIWA. Show all posts
Showing posts with label PERISTIWA. Show all posts

Tahukah Anda! Penyebar Agama Kristen Pertama Dijawa Adalah Seorang Kyai

Kyai Sadrach
Informasi ini saya kutip dari Wikipedia, dan semula saya tidak percaya kalau Penyebar Agama Kristen Pertama Dipulau Jawa Adalah Seorang Kyai bernama Kyai Sadrach, berikut informasinya;

Sadrach (lahir tahun 1835 – meninggal di Purworejo, 14 November 1924) adalah salah seorang yang menjadi penyebar agama Kristen di tanah Jawa. Ia dilahirkan sekitar tahun 1835, di daerah Karesidenan Jepara. Sumber lain ada yang mengatakan di lahir di karesidenan Demak.

Nama kelahirannya adalah Radin, dan saat dia berguru di pesantren daerah Jombang namanya bertambah menjadi Radin Abas. Akan tetapi, setelah belajar di Jombang ia pun hijrah ke Semarang dan bertemu dengan seorang penginjil yang bernama Hoezoo dan kemudian Radin Abas pun ikut kelas Katekisasi yang diajar oleh Hoezoo tersebut.
Di dalam proses Kelas Katekisasi tersebut, ia berkenalan dengan seseorang yang sudah sepuh (tua) bernama Ibrahim Tunggul Wulung yang asalnya sedaerah dengan Radin, yaitu dari daerah Bondo, Karesidenan Jepara. Semenjak perkenalan tersebut, Radin menyatakan kehendaknya menjadi murid Tunggul Wulung.

Setelah menjadi murid Tunggul Wulung, mereka berdua pun sempat bepergian ke Batavia. Di Batavia inilah Radin dibaptis pada tanggal 14 April 1867 dan menjadi anggota gereja Zion Batavia yang beraliran Hervormd. Saat dibaptis beliau berusia 26 tahun dan memiliki nama baptisan Sadrach. Semenjak saat itu beliau tidak lagi dipanggil Radin Abas, akan tetapi Sadrach Radin yang lambat laun hanya dipanggil Sadrach saja. Sejak saat dibaptis itulah dia bertugas untuk menyebarkan brosur dan buku-buku tentang agama Kristen, dari rumah ke rumah di seputar Batavia.
Setelah dibaptis dan menyebarkan brosur-brosur kekristenan, Sadrach pun kembali ke Semarang. Di sana Tunggul Wulung telah mendirikan beberapa desa Kristen, yaitu Banyuwoto, Tegalombo, dan yang paling terkenal adalah desa Bondo di Utara Jepara.
Setelah sempat menjadi pemimpin jemaah Bondo, karena Tunggul Wulung berkeliling untuk menarik orang-orang untuk tinggal di Bondo. Setelah Tunggul Wulung kembali ke Bondo, Sadrach pun keluar dari Bondo dan keliling menuju Kediri saat berusia 35 tahun dan pergi ke Purworejo.
Di Purworejo-lah Sadrach diangkat anak oleh Pendeta Stevens-Philips. Sadrach tinggal di Purworejo pada tahun 1869 selama setahun dan pindah ke Karangjasa sekitar 25 kilometer sebelah Selatan Purworejo.
Keputusan Sadrach untuk meninggalkan Steven-Philips merupakan keputusan khas dari orang Jawa pada saat itu, yaitu motif kepercayaan diri dan semangat untuk mandiri dan merdeka. Untuk itu pun, Sadrach lebih bebas berkarya tanpa di bawah pengawasan Philips lagi.
Ibrahim yang tinggal di Sruwoh, desa tetangga, adalah orang pertama yang dikristenkan oleh Sadrach dengan metode debat umum. Orang kedua yang dikristenkan adalah Kasanmetaram yang terkenal pada zaman itu. Metode yang dipergunakan oleh Sadrach adalah debat yang berlangsung hingga beberapa hari lamanya.
Semenjak itu orang yang berdebat dan akhirnya tidak lagi ikut katekisasi dengan Steven-Philips, akan tetapi menerima ajaran katekisasi dari Sadrach. Namun demikian hubungan Sadrach dengan Stevens-Philips tetap berlanjut. Sadrach menganggap Philips sebagai pelidungnya secara formal yang menjembatani dengan para penguasa Belanda. Semua murid Sadrach dibaptis oleh Pendeta dari Pekabar Injil Belanda.

Sadrach menjadi guru yang sangat berpengaruh, karena kemampuannya tidak hanya berdebat umum, akan tetapi juga di dalam menguasai roh-roh kekuatan gelap. Akan tetapi Sadrach sempat ditangkap dan dipenjara oleh Pemerintah Belanda karena dianggap sebagai ancaman politik yang potensial karena memiliki pengaruh yang kuat di kalangan pribumi.
Namun demikian Sadrach dibebaskan setelah dipenjara selama hampir 3 bulan, oleh karena Pemerinta Belanda tidak dapat menemukan bukti yang cukup kuat. Setelah keluar penjara, ia kembali dapat bekerja tanpa rintangan. Di dalam metode berikutnya, Sadrach lebih memilih menggunakan simbol. Sadrach tertarik menggunakan simbol yang merupakan aspek yang penting di dalam kebudayaan Jawa. Simbol yang dipilihnya adalah sapu, yang dibagikannya kepada 80 kelompok jemaat setempat. Ia memberikan sapu dengan pesan bahwa jemaat harus bersatu dan kuat, terikat satu sama lain bagaikan sapu yang diibaratkan sebagai Yesus.

Pada tanggal 14 November 1924 di dalam usianya yang mendekati 90 tahun, tokoh besar Radin Abas Sadrach Supranata meninggal dunia. Beliau meninggal dunia di dalam tidurnya dengan tenang. Saat pemakamannya hadir kerabat-kerabatnya seperti Bupati Kutoarjo dan Kulon Progo. Sehingga tampak jelas bahwa Sadrach telah dikenal luas pada zaman itu.


Mengenang Tragedi Berdarah Semanggi 1998

Tepat tanggal 13 November hari ini kita mengenang akan Tragedi Berdarah yang menewaskan puluhan mahasisiwa yang disebut Tragedi Semanggi.
Pada bulan November 1998 pemerintahan transisi Indonesia mengadakan Sidang Istimewa untuk menentukan Pemilu berikutnya dan membahas agenda-agenda pemerintahan yang akan dilakukan. Mahasiswa bergolak kembali karena mereka tidak mengakui pemerintahan ini dan mereka mendesak pula untuk menyingkirkan militer dari politik serta pembersihan pemerintahan dari orang-orang Orde Baru.
tragedi semanggi

Masyarakat dan mahasiswa menolak Sidang Istimewa 1998 dan juga menentang dwifungsi ABRI/TNI karena dwifungsi inilah salah satu penyebab bangsa ini tak pernah bisa maju sebagaimana mestinya. Benar memang ada kemajuan, tapi bisa lebih maju dari yang sudah berlalu, jadi, boleh dikatakan kita diperlambat maju. Sepanjang diadakannya Sidang Istimewa itu masyarakat bergabung dengan mahasiswa setiap hari melakukan demonstrasi ke jalan-jalan di Jakarta dan kota-kota besar lainnya di Indonesia. Peristiwa ini mendapat perhatian sangat besar dari dunia internasional terlebih lagi nasional. Hampir seluruh sekolah dan universitas di Jakarta, tempat diadakannya Sidang Istimewa tersebut, diliburkan untuk mecegah mahasiswa berkumpul. Apapun yang dilakukan oleh mahasiswa mendapat perhatian ekstra ketat dari pimpinan universitas masing-masing karena mereka di bawah tekanan aparat yang tidak menghendaki aksi mahasiswa. Sejarah membuktikan bahwa perjuangan mahasiswa tak bisa dibendung, mereka sangat berani dan jika perlu mereka rela mengorbankan nyawa mereka demi Indonesia baru.
Pada tanggal 12 November 1998 ratusan ribu mahasiswa dan masyrakat bergerak menuju ke gedung DPR/MPR dari segala arah, Semanggi-Slipi-Kuningan, tetapi tidak ada yang berhasil menembus ke sana karena dikawal dengan sangat ketat oleh tentara, Brimob dan juga Pamswakarsa (pengamanan sipil yang bersenjata bambu runcing untuk diadu dengan mahasiswa). Pada malam harinya terjadi bentrok pertama kali di daerah Slipi dan puluhan mahasiswa masuk rumah sakit. Satu orang pelajar, yaitu Lukman Firdaus, terluka berat dan masuk rumah sakit. Beberapa hari kemudian ia meninggal dunia.
Esok harinya Jum'at tanggal 13 November 1998 ternyata banyak mahasiswa dan masyarakat sudah bergabung dan mencapai daerah Semanggi dan sekitarnya, bergabung dengan mahasiswa yang sudah ada di depan kampus Atma Jaya Jakarta. Jalan Sudirman sudah dihadang oleh aparat sejak malam hari dan pagi hingga siang harinya jumlah aparat semakin banyak guna menghadang laju mahasiswa dan masyarakat. Kali ini mahasiswa bersama masyarakat dikepung dari dua arah sepanjang Jalan Jenderal Sudirman dengan menggunakan kendaraan lapis baja.
Jumlah masyarakat dan mahasiswa yang bergabung diperkirakan puluhan ribu orang dan sekitar jam 3 sore kendaraan lapis baja bergerak untuk membubarkan massa membuat masyarakat melarikan diri, sementara mahasiswa mencoba bertahan namun saat itu juga terjadilah penembakan membabibuta oleh aparat dan saat di jalan itu juga sudah ada mahasiswa yang tertembak dan meninggal seketika di jalan. Ia adalah Teddy Wardhani Kusuma, merupakan korban meninggal pertama di hari itu.
Mahasiswa terpaksa lari ke kampus Atma Jaya untuk berlindung dan merawat kawan-kawan dan masyarakat yang terluka. Korban kedua penembakan oleh aparat adalah Wawan, yang nama lengkapnya adalah Bernadus R Norma Irawan, mahasiswa Fakultas Ekonomi Atma Jaya, Jakarta, tertembak di dadanya dari arah depan saat ingin menolong rekannya yang terluka di pelataran parkir kampus Atma Jaya, Jakarta. Mulai dari jam 3 sore itu sampai pagi hari sekitar jam 2 pagi terus terjadi penembakan terhadap mahasiswa di kawasan Semanggi dan saat itu juga lah semakin banyak korban berjatuhan baik yang meninggal tertembak maupun terluka. Gelombang mahasiswa dan masyarakat yang ingin bergabung terus berdatangan dan disambut dengan peluru dan gas airmata. Sangat dahsyatnya peristiwa itu hingga jumlah korban yang meninggal mencapai 15 orang, 7 mahasiswa dan 8 masyarakat. Indonesia kembali membara tapi kali ini tidak menimbulkan kerusuhan.
Anggota-anggota dewan yang bersidang istimewa dan tokoh-tokoh politik saat itu tidak peduli dan tidak mengangap penting suara dan pengorbanan masyarakat ataupun mahasiswa, jika tidak mau dikatakan meninggalkan masyarakat dan mahasiswa berjuang sendirian saat itu. Peristiwa itu dianggap sebagai hal lumrah dan biasa untuk biaya demokrasi. "Itulah yang harus dibayar mahasiswa kalau berani melawan tentara".
Betapa menyakitkan perlakuan mereka kepada masyarakat dan mahasiswa korban peristiwa ini. Kami tidak akan melupakannya, bukan karena kami tak bisa memaafkan, tapi karena kami akhirnya sadar bahwa kami memiliki tujuan yang berbeda dengan mereka. Kami bertujuan memajukan Indonesia sedangkan mereka bertujuan memajukan diri sendiri dan keluarga masing-masing. Sangat jelas!

Fakta Tentang Sosok Bung Tomo

Pada hari ini, 10 November, bangsa Indonesia merayakan Hari Pahlawan. Hari ini berkaitan erat dengan Pertempuran Surabaya atau lebih dikenal dengan Peristiwa 10 November. Tentunya kita masih ingat dari pelajaran sejarah sejak SD bahwa ada seorang tokoh yang sering disebut-sebut berkenaan dengan pertempuran itu. Benar, dia adalah Bung Tomo (Sutomo).
Hampir semua orang ingat Bung Tomo adalah sosok yang membakar semangat jiwa arek-arek Surabaya pada masanya. Kemudian, kita juga tahu bagaimana sosok Bung Tomo dalam buku-buku teks pelajaran sejarah seperti pada gambar di bawah.
Hampir semua mengetahui foto ini adalah Bung Tomo saat memberi orasi arek Surabaya 10 November 1945. Apakah benar seperti itu? Kemudian, mungkin sebagian orang mengira pakaian yang dikenakan Bung Tomo adalah seragam tentara / pejuang di kala itu. Dan apakah benar seperti itu? Oleh karena itu, pada tulisan kali ini, saya bermaksud menyampaikan beberapa fakta yang mungkin luput diajarkan dalam pelajaran sekolah-sekolah mengenai beliau.

1. Foto Legendaris Bung Tomo yang mengajungkan jari telunjuk kanan di bawah naungan payung berpola strip bukan diambil pada 10 November 1945

Menurut keterangan Sulistina (Ny. Sutomo, istrinya), foto tersebut bukanlah rekayasa. Saat foto ini diambil, Bung Tomo memang sedang berpidato namun bukan dalam rangka orasi perang pada kejadian Peristiwa 10 November (Battle of Surabaya), melainkan pada saat berpidato di lapangan Mojokerto tahun 1947 dalam rangka untuk mengumpulkan pakaian bagi korban Perang Surabaya. Saat itu, warga Surabaya masih tertahan di pengungsian Mojokerto dan jatuh miskin karena Surabaya masih dikuasai Belanda. Foto legendaris tersebut diambil oleh Alexius Mendur dari IPPh0S (Indonesia Press Photo Servises) dan dibuat dalam majalah dwi bahasa Mandarin-Indonesia Nanjang Post edisi Februari 1947. Alex sendiri adalah kawan baik Bung Tomo dan juga merupakan pemotret peristiwa proklamasi 17 Agustus 1945 dan pengibaran bendera pusaka di hari itu. Informasi IPPhoS sendiri saya dapatkan pada tautan berikut.
                                Bung Tomo dan inset foto istrinya



2. Baju yang dikenakan Bung Tomo dalam foto legendaris adalah seragam tentara kekaisaran Jepang

Kita bisa melihat foto yang dikenakan Jenderal Tomoyaki Yamashita (kiri) pada masa Perang Dunia II berikut.

3. Pangkat terakhir Bung Tomo adalah Mayor Jenderal
Menurut buku “Bung Tomo suamiku : biar rakyat yang menilai kepahlawananmu.” (ref) tulisan istrinya, Bung Karno melantik Bung Tomo sebagai seorang Mayor Jenderal. Dia duduk dalam Combined Staff di Markas Besar Angkatan Darat yang membawahi tiga angkatan. Diuraikan lebih lanjut di situs syadiashare, dalam staf gabungan angkatan perang RI tersebut, Bung Tomo bersama Jenderal Sudirnan, Letnan Jenderal Oerip Soemohardjo, Komodor Soerjadarma, Laksamana Nazir dan sebagainya, mempunyai tugas sebagai koordinator AD, AL, AU di bidang informasi dan perlengkapan perang.
Namun, Bung Tomo kemudian memilih menjadi rakyat jelata setelah menerima telegram dari Amir Syarifudin selaku Menteri Pertahanan Kabinet V yang isinya, Bung Tomo harus memilih – tetap menjadi Jenderal namun tidak boleh berpidato, atau berhenti menjadi Jenderal tapi bisa berpidato. Saat menerima telegram tersebut, Bung Tomo marah dan berkata, “Persetan ora dadi jenderal ya ora patheken. (tidak jadi jenderal ya tidak sakit pathek/kusta), Siapa nanti yang memberi semangat, siapa nanti yang mmberi penerangan kepada rakyat?”, kepada istrinya dengan logat khas Surabayanya. Menurut istrinya, Bung Tomo tahu itu taktik PKI, sehingga akhirnya dia memilih menjadi rakyat jelata asal tidak dilarang berpidato daripada menjadi jenderal tapi mulutnya dibungkam.
4. Bung Tomo pernah menjadi pejabat dan pilitikus
Tercatat, Bung Tomo pernah menjabat sebagai Menteri Negara Urusan Bekas Pejuang Bersenjata/Veteran sekaligus Menteri Sosial Ad Interim pada 1955-1956 di era Kabinet Perdana Menteri Burhanuddin Harahap. Kemudian, Bung Tomo juga pernah duduk sebagai anggota DPR pada 1956-1959 yang mewakili Partai Rakyat Indonesia.

5. Bung Tomo pernah dipenjara pemerintah Orde Baru
Pada awalnya, Bung Tomo mendukung pemerintahan Soeharto karena tidak berhalauan komunis. Namun di tahun 70-an,Bung Tomo mulai mengkritik pemerintah orde baru. Memang sudah menjadi sifat Bung Tomo dalam mengkritik siapapun tanpa tedheng aling-aling alias ceplas-ceplos tanpa sungkan, tanpa ewuh-pakewuh dengan beraninya mengkritik Bung Karno, Seoharto, dan orang besar kala itu. Seperti disebut dalam buku “Menembus kabut gelap: Bung Tomo menggugat : pemikiran, surat, dan artikel” … Oleh Sutomo (Bung Tomo), menjelang hari Pahlawan 1972, Majalah Panji Masyarakat No 855 Tahun XIII memuat wawancara dengan Bung Tomo dengan Judul Bung Tomo Menggugat: Pengorbanan Pahlawan Kemerdekaan dan Semangat 10 November 1945 telah dikhianati”. Artikel ini berisi kritikan Bung Tomo kepada Presiden Soeharto, Gubernur Ali Sadikin, dan Bulog yang seolah-olah menganakemaskan etnis Tionghoa. Bung Tomo juga kerap mengkritik adanya korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan di Orde Baru. Empat tahun setelah putra keduanya, Bambang Sulistomo, ditahan dua tahun karena diduga terlibat unjuk rasa pada peristiwa 15 Januar 1974 (yang dikenal dengan Malari) , giliran Bung Tomo yang ditahan akibat diduga terlibat unjuk rasa mahasiswa yang menentang kebijakan Orde Baru. Bersamanya ditahan juga Mahbub Junaedi dan Ismail Suny. (sumber: Antara). Menurut Bambang, “Sejak keluar dari penjara bapak tak lagi meledak-ledak meskipun hati, sikap, dan kata-katanya tetap satu, konsisten,”.
6. Bung Tomo berkuliah di Fakultas Ekonomi UI
Menurut yang diberitakan Antara, Bung Tomo kuliah di FEUI pada tahun 1956-1959.

7. Bung Tomo baru mendapat gelar pahlawan pada tahun 2008
Bung Tomo dikukuhkan sebagai Pahlawan Nasional setelah era Orde Baru usai, tepatnya pada tanggal 10 November 2008 setelah pemerintah didesak oleh Gerakan Pemuda (GP) Ansor dan Fraksi Partai Golkar (FPG) pada 9 November 2007. Keputusan ini tertuang dalam Keputusan Presiden Nomor 041/TK/TH 2008.
8. Bung Tomo meninggal di Padang Arafah namun dimakamkan di pemakaman umum
Sutomo sangat bersungguh-sungguh dalam kehidupan imannya, namun tidak menganggap dirinya sebagai seorang Muslim saleh, ataupun calon pembaharu dalam agama. Bung Tomo meninggal saat menunaikan ibadah haji 7 Oktober 1981 ia meninggal dunia di Padang Arafah. Kemudian jenasah Bung Tomo dibawa pulang dan dimakamkan tidak di Taman Makam Pahlawan melainkan di Pemakaman Umum di Ngagel, Surabaya sesuai amanahnya.
9. Petikan pidato Bung Tomo
Bismillahirrohmanirrohim..
MERDEKA!!!
Saudara-saudara rakyat jelata di seluruh Indonesia terutama saudara-saudara penduduk kota Surabaya.
Kita semuanya telah mengetahui.
Bahwa hari ini tentara Inggris telah menyebarkan pamflet-pamflet yang memberikan suatu ancaman kepada kita semua.
Kita diwajibkan untuk dalam waktu yang mereka tentukan,
menyerahkan senjata-senjata yang telah kita rebut dari tangannya tentara Jepang.
Mereka telah minta supaya kita datang pada mereka itu dengan mengangkat tangan.
Mereka telah minta supaya kita semua datang pada mereka itu dengan membawa bendera putih tanda bahwa kita menyerah kepada mereka
Saudara-saudara….
Di dalam pertempuran-pertempuran yang lampau kita sekalian telah menunjukkan bahwa rakyat Indonesia di Surabaya.
Pemuda-pemuda yang berasal dari Maluku,
Pemuda-pemuda yang berawal dari Sulawesi,
Pemuda-pemuda yang berasal dari Pulau Bali,
Pemuda-pemuda yang berasal dari Kalimantan,
Pemuda-pemuda dari seluruh Sumatera,
Pemuda Aceh, pemuda Tapanuli, dan seluruh pemuda Indonesia yang ada di Surabaya ini.
Di dalam pasukan-pasukan mereka masing-masing.
Dengan pasukan-pasukan rakyat yang dibentuk di kampung-kampung.
Telah menunjukkan satu pertahanan yang tidak bisa dijebol.
Telah menunjukkan satu kekuatan sehingga mereka itu terjepit di mana-mana.
Hanya karena taktik yang licik daripada mereka itu saudara-saudara.
Dengan mendatangkan Presiden dan pemimpin2 lainnya ke Surabaya ini.
Maka kita ini tunduk utuk memberhentikan pentempuran.
Tetapi pada masa itu mereka telah memperkuat diri.
Dan setelah kuat sekarang inilah keadaannya.
Saudara-saudara kita semuanya.
Kita bangsa indonesia yang ada di Surabaya ini akan menerima tantangan tentara Inggris itu,
dan kalau pimpinan tentara inggris yang ada di Surabaya.
Ingin mendengarkan jawaban rakyat Indonesia.
Ingin mendengarkan jawaban seluruh pemuda Indoneisa yang ada di Surabaya ini.
Dengarkanlah ini tentara Inggris.
Ini jawaban kita.
Ini jawaban rakyat Surabaya.
Ini jawaban pemuda Indoneisa kepada kau sekalian.
Hai tentara Inggris!
Kau menghendaki bahwa kita ini akan membawa bendera putih untuk takluk kepadamu.
Kau menyuruh kita mengangkat tangan datang kepadamu.
Kau menyuruh kita membawa senjata2 yang telah kita rampas dari tentara jepang untuk diserahkan kepadamu
Tuntutan itu walaupun kita tahu bahwa kau sekali lagi akan mengancam kita untuk menggempur kita dengan kekuatan yang ada tetapi inilah jawaban kita:
Selama banteng-banteng Indonesia masih mempunyai darah merah
Yang dapat membikin secarik kain putih merah dan putih
Maka selama itu tidak akan kita akan mau menyerah kepada siapapun juga
Saudara-saudara rakyat Surabaya, siaplah keadaan genting!
Tetapi saya peringatkan sekali lagi.
Jangan mulai menembak,
Baru kalau kita ditembak,
Maka kita akan ganti menyerang mereka itukita tunjukkan bahwa kita ini adalah benar-benar orang yang ingin merdeka.
Dan untuk kita saudara-saudara….
Lebih baik kita hancur lebur daripada tidak merdeka.
Semboyan kita tetap: merdeka atau mati!
Dan kita yakin saudara-saudara….
Pada akhirnya pastilah kemenangan akan jatuh ke tangan kita,
Sebab Allah selalu berada di pihak yang benar.
Percayalah saudara-saudara.
Tuhan akan melindungi kita sekalian.
Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!
MERDEKA!!!
Demikianlah beberapa fakta yang saya temukan dari hasil membaca beberapa hari ini. Semoga Bangsa Indonesia bisa meneladani keberanian beliau yang berjuang untuk kemakmuran rakyat. Untuk foto-foto Bung Tomo yang lain, kita bisa melihat dalam tautan Galeri Bung Tomo berikut.
Bung Tomo (source :njleputh.uiwap.com)

Terpidana Mati Ini Selamat Dari Kematian Karena Badannya Yang Besar

Terpidana Mati Ini Selamat Dari Kematian Karena Badannya Yang Besar
Berita Bedali-Bagi kebanyakan orang, kegemukan adalah penyebab berbagai macam penyakit yang fatal. Namun bagi narapidana di Amerika Serikat dan beberapa negara lain, tubuh yang gemuk justru menyelamatkan mereka dari eksekusi hukuman  mati karena dikhawatirkan obatnya tidak mempan. Lho?

1. Ronald Post
Terpidana Mati Ini Selamat Dari Kematian Karena Badannya Yang Besar

Ronald Post, seorang terpidana mati di negara bagian Ohio seharusnya menjalani eksekusi pada 16 Januari 2012. Namun karena berat badannya saat itu masih 218 kg, suntikan maut batal diberikan karena diperkirakan tidak mempan dan justru akan membuatnya tersiksa.

Dalam kaitannya dengan eksekusi hukuman mati dengan suntikan, berat badan memang sangat diperhitungkan. Berat badan yang berlebih akan membuat wilayah jalur peredaran obat racun tersebut pada tubuh menjadi lebih luas, sehingga tidak memberikan efek yang diharapkan saat diberikan pada dosis normal.

"Kondisi fisik dan medisnya (Ronald Post) unik dan berisiko, bahwa setiap upaya untuk mengeksekusinya akan berujung pada rasa sakit yang serius baik secara fisik maupun psikologis, seperti halnya eksekusi yang melibatkan penyiksaan sampai mati," tulis pengacara Post seperti dikutip dari News.com.au, Selasa (18/9/2012).

2. Mitchell Rup
Terpidana Mati Ini Selamat Dari Kematian Karena Badannya Yang Besar

Tahun 1994, pengadilan negara bagian Washington menangguhkan hukuman gantung bagi seorang terpidana mati, Mitchell Rup. Dikhawatirkan dengan berat badannya yang mencapai 180 kg, hukuman gantung bisa membuat kepalanya langsung terpenggal karena lehernya tidak kuat. Dengan berbagai pertimbangan, hukuman Rupe dikurangi jadi penjara seumur hidup dan akhirnya meninggal dengan sendirinya tahun 2006.

3. Richard Cooey
Terpidana Mati Ini Selamat Dari Kematian Karena Badannya Yang Besar

Tahun 2008, pengadilan federal menolak permohonan pembatalan eksekusi mati atas terpidana pembunuhan ganda Richard Cooey yang mengaku terlalu gemuk untuk dieksekusi. Alasan bahwa menu makan yang tidak sehat dan minimnya kesempatan olahraga tidak diterima oleh jaksa, hingga akhirnya Cooey yang saat itu bobotnya 121 kg tetap disuntik mati pada Oktober 2008.

4. Christopher Newton
Terpidana Mati Ini Selamat Dari Kematian Karena Badannya Yang Besar

Tahun 2007, seorang terpidana mati kasus pembunuhan, Christopher Newton baru bisa dieksekusi setelah melalui proses penyuntikan yang memakan waktu 2 jam. Menurut seorang juru bicara, lamanya proses penyuntikan dipicu oleh breat badan Newton yang mencapai 120 kg.

Gadis Remaja Digilir 12 Lelaki hingga Hamil

Gadis Remaja Digilir 12 Lelaki hingga Hamil
BATAM - Seorang gadis belia di Batam, Kepulauan Riau, menjadi korban pemerkosaan hingga hamil. Korban tidak tahu benih siapa yang ada dalam rahimnya.

Korban, Nu (13), diperiksa di Mapolresta Barelang. Didampingi petugas Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA), Nu menjalani visum di klinik kesehatan Mapolresta Barelang.

Kasus ini terkuak saat Nu tepergok warga sedang berhubungan intim dengan seorang remaja berinisal An di semak-semak di kawasan Bengkong Laut, Batam, pada Sabtu, 23 September lalu. Dia dan An dibawa petugas ke Mapolres Barelang.

Kepada petugas, Nu sudah tidak haid sejak Agustus lalu. Nu lupa dengan siapa saja berhubungan intim. Hanya 12 nama lelaki yang diingat perempuan asal Kabupaten Jember, Jawa Timur, itu.

Nu tidak menampik sudah berhubungan intim dengan banyak lelaki. Hubungan seks dilakukan atas dasar suka sama suka hingga di bawah paksaan. “Biasanya, saya dalam keadaan mabuk saat melakukannya,” ujarnya.

Berdasarkan keterangan dari Nu, polisi mengamankan enam dari 12 lelaki yang disebut pernah berhubungan intim dengannya. Ironisnya, semua pelaku masih di bawah umur.

Satu dari enam pelaku yang diamankan polisi, Ad, mengakui melakukan hubungan layaknya suami istri dengan Nu pada 11 Agustus 2012 di sebuah rumah makan di Bengkong. Saat itu Ad tidak sendiri, dia bersama tiga rekannya. “Saya sama teman-teman. Saat itu, Nu mabuk,” ujar Ad.

Sementara tiga lainnya mengaku melakukan hubungan badan dengan Nu pada 12 Agustus di tempat yang sama. Lagi-lagi, hubungan dilakukan saat Nu di bawah pengaruh minuman keras.

Nu sendiri baru empat bulan berada di Batam. Dia datang bersama temannya untuk mencari pekerjaan setelah memutuskan berhenti dari sekolah di sebuah SMP di Jember.

Ada Lagi Pulau Di Jual di Kalimantan Timur

Ada Lagi Pulau Di Jual di Kalimantan Timur

Sangatta, Kalimantan Timur, (Analisa). Sali Bahar (44), ahli waris Pulau Balang dan Pulau Kwangan, ingin menjual pulau-pulau harta miliknya itu. Kedua pulau kecil itu terletak di antara dua daerah, Kota Balikpapan dan Penajam, Kalimantan Timur.
Harga yang ditawarkan "hanya" Rp10 miliar saja dan masih bisa dinego. "Kepada siapa saja, silakan ajukan penawaran berapa... nanti ada tawar-menawar. Bisa dinego," katanya. Seolah beriklan, Pulau Kwangan itu dia anggap potensial sebagai kawasan wisata dan rekreasi.

"Pulau Kwangan ini, sangat strategis karena terletak di antara Balikpapan dan Penajam, dan hanya beberapa menit saja untuk mencapainya menggunakan speed boat atau kapal motor maupun ces/ketingting," katanya.

Pulau Kwangan seluas 20 hektare, dia miliki karena warisan peninggalan ayahnya, Haji Baba, yang menguasai pulau itu sejak 1957. Legalitas otentik dimiliki dari pemerintah Kotamadya Balikpapan pada 1971.

Soal harga, menurut Salim Baar, kalau dulunya dibandrol seharga Rp10 miliar, maka saat ini peminat atau investor boleh mengajukan penawaran kepada ahli warisnya. "Sejak diumumkan ke publik Oktober 2011 lalu sampai sekarang, pulau itu masih kami tawarkan bagi siapa saja yang berminat. Namun saat ini hanya Pulau Kwangan yang akan dijual," kata Bahar, Minggu.

Sebelumnya dua pulau itu dihargai masing-masing Rp50 miliar untuk Pulau Balang seluas 600 hektare dan Rp10 miliar untuk Pulau Kwangan. Total, harga keduanya "cuma" Rp60 miliar.

Bahar menyatakan, mereka menjual kedua pulau itu karena tidak punya waktu untuk mengurus. Juga karena para ahli waris sudah tinggal di tempat-tempat yang tersebat, sehingga disepakati dijual saja. (Ant)